Rabu, 01 Mei 2013

Bayi mamoth ditemukan dengan kondisi sempurna!

http://img.photobucket.com/albums/v484/Starshinetx/Fossils/babymammoth5.jpg
PENEMUAN
Pada suatu pagi bulan Mei 2007 di Semenanjung Yamal, Siberia barat laut, seorang penggembala rusa kutub dari suku Nenets bernama Yuri Khudi berdiri di sebuah beting Sungai Yuribey bersama tiga putranya, bermusyawarah mengenai sesosok jasad kecil. Walau belum pernah melihat binatang seperti itu sebelumnya, mereka sangat mengenal jasad itu dari dongeng yang dinyanyikan orang Nenets di balai pertemuan pada malam musim dingin yang gelap. Ini bayi mamont, makhluk buas yang kata orang Nenets berkeliaran di dunia bawah yang gelap dan beku, digembalakan oleh para dewa neraka sama seperti Nenets menggembalakan rusa kutub di tundra. Khudi sudah sering melihat gading mamut, batang berpilin warna kuning madu setebal batang pohon yang ditemukan sukunya setiap musim panas. Namun, dia tak pernah melihat binatang yang utuh, apa lagi yang demikian awet bak mukzizat tersebut. Selain rambut dan kuku yang tak ada lagi, bagian tubuh yang lain masih utuh.
Khudi gelisah. Dia merasa ini penemuan penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Namun, dia tidak mau menyentuh binatang itu karena suku Nenets yakin mamut adalah pertanda malapetaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa barangsiapa menemukan mamut akan mati muda. Khudi bersumpah akan menenangkan penguasa neraka dengan mengorbankan anak rusa kutub dan sesajen vodka. Tapi, Pertama, dia harus menempuh perjalanan 240 kilometer ke selatan, ke kota kecil Yar Sale untuk berkonsultasi dengan teman lamanya Kirill Serotetto yang lebih paham perihal dunia luar. Serotetto mendengarkan cerita temannya lalu bergegas membawanya menemui direktur museum lokal yang membujuk pemerintah setempat untuk menerbangkan Khudi dan Serotetto kembali ke Sungai Yuribey dengan helikopter.
Sayang disayang, saat mereka tiba di beting itu, mamut tersebut telah hilang.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Khudi juga curiga bahwa orang yang mau menangani benda semacam itu mungkin akan mendapat untung besar—pedagang gading secara berkala mengunjungi wilayah itu untuk membeli gading mamut dan entah berapa yang akan mereka bayar untuk mamut utuh? Kecurigaan Khudi segera jatuh kepada salah seorang sepupunya yang oleh beberapa orang Nenets dilihat ada di beting itu dan kemudian terlihat pergi naik kereta rusa-kutubnya ke arah kota Novyy Port.

Khudi dan Serotetto bergegas mengejar dengan mobil salju. Setibanya, mereka melihat mamut kecil itu disandarkan di tembok sebuah toko. Orang-orang memotretnya dengan kamera ponsel. Si pemilik toko telah membeli jasad itu dari sepupu Khudi seharga dua mobil salju dan makanan untuk setahun. Walau tidak lagi sempurna—anjing geladak telah menggerogoti sebagian ekor dan telinga kanannya—berkat bantuan beberapa polisi lokal, Khudi dan Serotetto berhasil memperoleh kembali bayi itu. Jasad itu lalu dibungkus dan dikirim dengan helikopter untuk disimpan dengan aman di Museum Shemanovsky di Salekhard, ibu kota wilayah itu.
“Untungnya berakhir bahagia,” ujar Alexei Tikhonov, direktur Museum Zoologi St. Petersburg dan salah seorang ilmuwan pertama yang melihat bayi yang ternyata betina itu. “Yuri Khudi menyelamatkan mamut paling awet yang kita peroleh dari Zaman Es.”
Para pegawai yang berterima kasih menamainya Lyuba, sama dengan istri Khudi.





Tiga Tersangka Baru Bom Boston Dituduh Hilangkan Barang Bukti

Jakarta - Tiga tersangka yang ditahan terkait bom Boston Marathon dituduh menghalangi penyelidikan. Ketiganya disangka menghilangkan barang bukti milik tersangka Dzokhar Tsarnaev.

Sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (/5/2013), Kejaksaan di Massachusetts mengatakan ketiganya tidak dituduh terlibat langsung dalam bom Boston.

Dua tersangka yakni Azamat Tazhayakov dan Dias Kadyrbayev diduga sengaja dengan membuang tas ransel dan laptop milik Dzhokhar Tsarnaev.

Tersangka lainnya yang bernama Robel Phillipos dituduh membuat pernyataan palsu kepada penyidik setelah pemboman yang menewaskan 3 orang dan melukai 264 orang tersebut.

Sebelumnya, sumber penegak hukum AS mengatakan bahwa dua orang ditahan oleh petugas imigrasi karena melanggar ketentuan visa mereka.

Tersangka Dzhokhar saat ini ditahan di rumah sakit tahanan. Kakaknya Tamerlan Tsarnaev tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Selasa, 30 April 2013

Mosaic Hancurkan Tembok Penghalang Muslim!


Shaista Gohir, Pangeran Charles, Admiral Amjad Hussein, Monawar Hussain. (Berita SuaraMedia)LONDON (Berita SuaraMedia) – Generasi muda Muslim Inggris yang hidup dalam komunitas-komunitas terpinggirkan di negara tersebut harus menghadapi berbagai persoalan penting setiap harinya, seperti kurangnya teladan positif, kurangnya pemberitaan media yang positif, kurangnya kepemimpinan komunitas yang efektif, serta kurangnya pemahaman di antara nonmuslim tentang peran warga Muslim dalam masyarakat. Untuk mengatasi isu-isu tersebut, pada tahun 2012 didirikan Mosaic atas inisiatif Pangeran Wales dan Komunitas Bisnis miliknya.
Yayasan amal ini bermarkas di London dan telah beroperasi di Yorkshire & Humber, Lancashire, serta mulai merambah internasional.
Bulan Mei lalu, sebuah inisiatif untuk mendukung generasi muda Muslim Inggris dengan pembinaan dan teladan positif diluncurkan di pusat CBSO (City of Birmingham Symphony Orchestra) di Birmingham.
Lebih dari 150 tamu menghadiri acara peluncuran resmi Mosaic West Midlands. Acara itu dipandu oleh Adil Ray dari BBC Asian Network dan melibatkan sejumlah pembicara serta penampil pertunjukkan.
Rear-Admiral Amjad Hussein, tentara muslim dengan pangkat tertinggi di Angkatan Bersenjata Inggris, Monawar Hussain, imam pertama di Eton College, serta Shaista Gohir dari Muslim Voice UK semua memberikan dukungan terhadap Mosaic.
John OBrien, direktur pelaksanaan Mosaic, mengatakan, "Perluasan Mosaic ke West Midlands merupakan sebuah perkembangan yang penting dan menyenangkan. Melihat pengaruh yang diberikan Mosaic selama 18 bulan di seluruh Inggris Raya, saya memiliki harapan tinggi bahwa Mosaic akan membuat perbedaan besar di kalangan generasi muda dan komunitas muslim di wilayah itu".
Salah satu persoalan utama dalam kehidupan remaja Muslim pada umumnya adalah kurangnya teladan yang positif dan kepemimpinan yang efektif. Untuk menginspirasi tumbuhnya kepemimpinan di dalam komunitas muslim di seluruh dunia, 90 delegasi dikumpulkan untuk menghadiri acara pembukaan Sekolah Musim Panas Internsional Mosaic (Mosaic International Summer School) bulan depan.
Sekolah musim panas ini bertujuan meningkatkan pemahaman tentang isu-isu lingkungan dan sosial global serta menciptakan hubungan yang positif antar individu dari dunia Muslim dan non-Muslim. Sekolah yang disponsori oleh rekan internasional, HSNC Bank Middle East ltd., ini telah dikembangkan melalui kerjasama dengan Kantor Persemakmuran dan Luar Negeri UK (UK Foreign and Commonwealth Office).
Program yang berlangsung selama dua minggu itu akan mendorong dilakukannya debat dan diskusi seputar isu-isu utama yang dihadapi komunitas-komunitas di seluruh dunia. Para delegasi juga akan diajak mengunjungi berbagai proyek yang ada di Inggris untuk semakin menghidupkan jalannya diskusi.
Kelompok delegasi telah diseleksi dari individu-individu dengan jangkauan usia antara 20-40 tahun dari seluruh penjuru dunia – mulai guru sampai desainer, murid, insinyur, dan pemimpin-pemimpin bisnis.
OBrien mengatakan, "Di Inggris, Mosaic membantu menghancurkan tembok penghalang sosial antara komunitas Muslim dan non-Muslim melalui pemberian dukungan kepada generasi muda Muslim dan yang lainnya di wilayah-wilayah pinggiran."
"Melalui Sekolah Musim Panas Internasional Mosaic, kami berharap dapat menyebarkan proyek kami ini ke seluruh dunia. Program ini akan menciptakan jaringan pemimpin dengan pemahaman terhadap isu-isu lingkungan dan sosial global, sehingga pemuda-pemudi muslim dapat mengarahkan hubungan yang positif antara dunia muslim dan nonmuslim di dalam komunitasnya sendiri."
Minggu pertama program tersebut diadakan di Cambridge dan terdiri atas berbagai seminar dan diskusi kelompok dengan tema Kepemimpinan yang Menginspirasi di Abad 21.
Di minggu kedua, para delegasi dipecah menjadi beberapa kelompok untuk mengunjungi proyek-proyek di beberapa tempat di Inggris. Setelah itu mereka akan kembali ke London untuk memberikan laporan serta berdiskusi dengan kelompok masing-masing mengenai apa-apa yang telah mereka pelajari.
Saat kembali ke negara masing-masing, para delegasi diharapkan dapat mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan dari program itu di tempat asal masing-masing dan dalam bidang mereka sendiri-

Rekayasa Yahudi-AS Kurung Muslim Sampai Akhir Hayat

Barisan pendukung Holy Land Foundation yang protes terhadap keputusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman terhadap yayasan amal tersebut karena menghadirkan saksi Israel yang tidak mau disebutkan namanya (Berita SuaraMedia)TEXAS (Berita SuaraMedia) - Pengadilan di Texas, AS, telah menjatuhkan hukuman 65 tahun penjara kepada seorang mantan kepala yayasan amal Muslim karena memberikan bantuan kepada kelompok pejuang Islam Palestina, Hamas.
Shukri Abu-Baker, mantan direktur eksekutif yayasan terebut, dan Ghassan Elashi, mantan ketuanya, dua dari lima karyawan Holy Land Foundation tahun lalu didakawa telah memberikan lebih dari $ 12 juta untuk Hamas.
"Saya melakukannya karena saya peduli, sukarela, bukan atas perintah dari Hamas," Abu-Baker mengatakan kepada sebuah pengadilan Texas pada Rabu, menurut sebuah laporan dari situs Dallas Morning News.
Salah satu pendiri Holy Land Foundation, Mohamed El-Mezain, yang merupakan saudara Mousa Abu Marzook, wakil pemimpin Hamas, telah dihukum 15 tahun penjara untuk memberikan bantuan kepada kelompok tersebut.
Dua karyawan lainnya Mufid Abdulqader dan Abdulrahman Odeh sedang menunggu keputusan penjatuhan hukuman pada hari Rabu nanti.
Abu-Baker dan Elashi divonis atas gabungan dari 69 tuntutan, termasuk mendukung organisasi "teroris", pencucian uang dan penipuan pajak.
Abdulqader dan Odeh divonis untuk tiga macam konspirasi.
Holy Land Foundation, yang sebelumnya adalah yayasan amal Muslim terbesar di AS, sendiri divonis atas 32 tuntutan.
Persidangan sebelumnya berakhir pada bulan Oktober 2009 dengan satu orang tidak bersalah atas 31 tuntutan, namun para juri tidak dapat menemukan kata sepakat atas yang lainnya.
Jaksa mengatakan yayasan tersebut telah telah menyebarkan ideologi Hamas dengan mendanai sekolah, rumah sakit dan program-program kesejahteraan sosial yang dikontrol oleh kelompok tersebut di wilayah Palestina, dan memungkinkan mereka untuk mengalihkan dana tersebut untuk kegiatan perang.
Pendukung Yayasan tersebut menduga bahwa pemerintah telah ikut campur tangan dan menjadikan kasus tersebut sebagai bagian dari apa yang disebut teror perang dan mengabaikan misi utama yayasan amal tersebut dalam memberikan bantuan kepada sangat miskin wilayah Palestina.
Mereka berkata tidak ada uang yang digunakan untuk membiayai kekerasan, dan kasus tersebut sebenarnya hanyalah "produk sampingan" dari apa yang disebut sentimen anti-Islam setelah serangan 11 September di tahun 2001.
Tetapi jaksa berpendapat bahwa bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh yayasan tersebut mengizinkan Hamas untuk mengalihkannya untuk mendanai kegiatan-kegiatan militan.
Juri telah mencapai keputusan bersalah tahun lalu, setelah delapan hari dari pembahasan dan diikuti sidang ulangan dari terhadap yayasan yang berbasis di Texas tersebut.
Itu adalah persidangan mengenai pembiayaan "terorisme" terbesar sejak serangan 9 / 11.
Dakwaan terhadap yayasan tersebut menyatakan bahwa mereka mensponsori anak yatim dan keluarga Palestina di Tepi Barat dan Gaza yang saudaranya telah meninggal atau dipenjara sebagai akibat dari serangan Israel.
Pejabat pemerintah telah mengrebek pusat yayasan Holy Land Foundation tersebut pada bulan Desember 2001, dan George Bush, Presiden Amerika Serikat, kemudian mengumumkan bahwa perampasan aset yayasan tersebut sebagai "langkah lain dalam memerangi terorisme".
Yayasan tersebut ditutup dan aset mereka telah dibekukan pada tahun 2001.
Sementara itu, pengacara pembela mereka mengatakan kliennya dibawa ke persidangan karena mereka memiliki ikatan keluarga dengan anggota Hamas, Khaled Meshaal, pemimpin politik Hamas yang diasingkan di Syria, yang juga merupakan saudara Abdulqader, salah satu dari lima terdakwa.
Sebagai alasan banding, pengacara yayasan tersebut diharapkan untuk memberi kesaksian balasan terhadap kesaksian yang diberikan oleh agen pemerintah Israel yang namanya disembunyikan dengan alasan keamanan.
Berikut adalah kelima terdakwa kasus ini.
Ghassan Elashi, 55, berasal dari Richardson. Ia membantu mendirikan Holy Land Foundation, yang kemudian berubah nama menjadi The Occupied Land Fund. Yayasan tersebut dipindahkan dari California pada tahun 1992 dan pada saat yang sama, Elashi resmi menjadi warga AS.
Elashi, yang lahir di Gaza bersama saudaranya mendirikan InfoCom, sebuah perusahaan komputer di Tanah Suci. Dalam sidang Holy juri menyatakan ia bersalah atas 35 tuduhan termasuk mendukung Hamas, pencucian uang dan penipuan pajak, dan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup.
Kemudian Shukri Abu Baker, 50, kelahiran Brazil pada tahun 1959, pindah ke wilayah Palestina sedari kecil dan tinggal di Kuwait sebelum pindah di AS pada tahun 1980. Dia menjabat sebagai CEO Holy Land. Sama seperti Elashi, ia juga dijatuhi hukuman bersalah atas 35 tuduhan termasuk mendukung Hamas, pencucian uang dan penipuan pajak. Baker dijatuhi hukuman seumur hidup.
Mufid Abdulqader, 49, dan Abdulrahman Odeh, 49, kelahiran Tepi Barat pada tahun 1959. Abdulqader, warga resmi Amerika, merupakan seorang sukarelawan Holy Land Foundation. Dia adalah seorang mantan insinyur Dallas yang mengawasi renovasi Bishop Arts District. Juri menyatakan mereka bersalah atas tiga tuduhan termasuk konspirasi dalam memenuhi dukungan material terhadap organisasi teroris internasional, konspirasi penyediaan dana, barang dan jasa, dan mengaku melakukan pencucian uang. Mereka diperkirakan akan dijatuhi hukuman 55 tahun penjara.
Mohammad El-Mezain, 55, adalah seorang imam sebelum pindah ke California untuk menjalankan Holy Land Foundation di tahun 1999. Juri menganggap ia bersalah atas penyediaan dukungan terhadap Hamas. Dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis

Satu dari tugu sejarah Irak yang berubah jadi obyek foto para wisatawan. (Berita SuaraMedia)KIRKUK (Berita SuaraMedia) – Satu lagi peninggalan bersejarah Irak berusia ribuan tahun, sebuah benteng di wilayah Kirkuk, Irak, kini sedang menanti detik-detik kebangkitannya dan berubah menjadi bahan bakar bagi mesin perindustrian pariwisata Irak.
"Saat ini kami sedang berusaha merubahnya menjadi benteng bagi para turis. Jadi bangunan semacam ini akan kami jadikan museum, seorang pengamat benda antik asal Irak, Ayad Tariq menuturkan selagi menjelajahi bangunan berdebu dari abad ke 19 yang dulunya milik sebuah keluarga hartawan Kristen.
Tariq berharap turis dari seluruh dunia datang mengunjungi benteng berusia 4.600 tahun, meski lokasi benteng tersebut cukup terselubung dan terpencil.
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tahun silam, dimana sekitar 60 benteng serupa didirikan oleh Alexander Agung pada abad ke-4.
Saat ini benteng tersebut berada di wilayah konflik antara Baghdad dan bangsa Kurdi di Irak.
"Setiap negara memiliki keunikan tersendiri, dan kami memiliki sebuah monumen dari dinasti Seljuk yang tidak kalah uniknya."
Di dekat benteng tersebut, terdapat sebuah makam seorang gadis yang meninggal pada saat berusia 24 tahun.
Terdapat pula makam Nabi Danial yang berusia 1.000 tahun yang juga berdekatan dengan sebuah Masjid Agung berusia tujuh abad.
Namun semua kerusakan yang terjadi di tempat-tempat bersejarah tersebut seakan mengingatkan akan serangan AS sejak 2003 lalu, dan berlanjut ke tempat bersejarah lainnya.
Keamanan memang terus ditingkatkan, namun hal tersebut bukan berarti Irak menutup diri dari "antrian" turis yang tertarik akan keindahan masa lalu Irak.
Qais Hussein Rashid, Kepala Bagian Pemeliharaan Bangunan Bersejarah, mengatakan Kirkuk merupakan salah satu daerah yang paling tat hukum di Irak.
"Pada zaman pemerintahan Saddam Hussein, kami memiliki petugas yang tidak mengetahui pastisejarah Irak, dan saat ini kami memiliki masalah yang sama."
Bulan lalu, Menteri Pariwisat dan Kebudayaan provinsi Nineveh segera melakukan tindakan pengamanan terhadap tembok Assyirian ketika diketahui beberapa orang mengambil bagian tembok dengan menggunakan gergaji listrik.
"Sangat jelas bahwa menggunakan alat-alat berat seperti itu merupakan tindak kriminal, kata Jubir kementerian, Abdelzahra al-Talaqani.
Pemerintahan juga telah bertindak cepat mencagari tempat bersejarah peninggalan Babilonia di provinsi Babil.
"Walikota Babil telah menguasai wilayah bersejarah tersebut," kata Rashid.
Donny Youkhanna, mantan Direktur Museum Nasional Irak yang juga berperan penting dalam melindungi peninggalan bersejarah Irak, khawatir badan pariwisata kurang bertanggung jawab atas segala warisan yang ada.
"Ahli arkeologi dimanapun di seluruh dunia pasti berpendapat bahwa dia sangat membenci industri pariwisata," kata Youkhanna, yang meninggalkan Irak pada 2006 lalu setelah mendapat ancaman pembunuhan, dan sekarang mengajar di Stony Brook University di New York.
"Seringkali para walikota lebih memilih uang dengan menggadaikan warisan nenek moyang kepada pariwisata daripada berdiskusi dengan ahli arkeologi," sesalnya.
"Dulunya, para ahli dunia datang ke Irak untuk belajar di museum."
Sekarang semua telah berubah, tutupnya. (al/aby) Dikutip oleh SuaraMedia.com

Arya Wiguna: Subur Itu Pengecut, Dia Takut Sama Saya!

Arya Wiguna (Foto: Egie Gusman)
JAKARTA - Dalam perseteruan dengan Eyang Subur, tak hanya Adi Bing Slamet yang selalu angkat bicara, Arya Wiguna juga kerap mengutarakan kekesalannya. 

Bahkan, pria yang terkenal dengan ucapan "Demi Tuhan" itu menganggap Eyang Subur pengecut.

"Subur itu pengecut, dia takut sama saya," papar Arya saat ditemui di kantor Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/4/2013). 

Dengan suara lantang, Arya mengaku tidak takut Eyang Subur melaporkannya.

"Dia mau laporin apa, saya enggak takut," tegasnya sambil melotot.