Senin, 16 April 2013
Organisasi
Kerjasama Islam (OKI), menghimbau pemerintah Myanmar memberi
Menteri-menteri OKI akses ke negara itu guna membahas kekerasan yang
menimpa kaum Muslim.
Pernyataan ini disampaikan OKI seusai pertemuan di Jeddah, Arab
Saudi, hari Ahad (15/04/2013). Dalam statemen itu mereka juga mendesak
Komisi Hak Asasi Manusia PBB untuk mengirim sebuah misi pencari fakta ke
Myanmar.
OKI mengatakan, kekerasan yang menelan paling sedikit 180 korban jiwa
di Myanmar barat tahun lalu "tidak dapat diterima", demikian ujarnya
dikutip Radio ABC.
Menurut OKI, pemerintah Myanmar telah mengambil "pendekatan negatif"
dalam menangani kekerasan antara umat Buddhist dan umat Muslim
Rohingya.
Prioritas
Bulan Maret lalu, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam
Ekmeleddin Ihsanoglu mengecam meluasnya kekerasan terbaru atas warga
Muslim oleh warga Buddhis di Burma (Myanmar).
Sekjen OKI menegaskan, situasi minoritas Muslim Myanmar Rohingya
merupakan salah satu isu yang menjadi prioritas utama dalam agenda kerja
OKI saat ini.
Sebelumnya, keinginan OKI membuka kantor di wilayah itu guna
membantuk kaum Muslim ditolak pemerintah dan Presiden Myanmar, Thein
Sein dan aktivis Budha.
Pernyataan dari kantor kepresidenan Myanmar mengatakan bahwa kantor
tersebut tidak sejalan dengan keinginan warga. Sebelumnya, ribuan biksu
Buddha melakukan serangkaian unjuk rasa untuk menentang rencana
pembukaan kantor OKI.
Bulan Juni tahun ini, marak kekerasan antara umat Buddha dan Islam di
negara bagian Rakhine, yang menyebabkan sekitar 80 orang tewas dan
4.000 rumah hancur dibakar.
Sejumlah negara Islam, yang bergabung di OKI, menyatakan pemeluk
Islam mendapat perlakuan yang tidak adil, baik saat berupaya mengatasi
bentrokan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Human Rights Watch mencatat, sedikitnya 828 rumah rusak
terbakar akibat kerusuhan yang dipicu aksi brutal biksu Budha ekstrimis
dan warga Buddhis terhadap penduduk Muslim di Meikhtila, Burma awal
April.
Sejak konflik terjadi di wilayah Rakhine tahun lalu, lebih dari 110
kaum Muslim Rohingya (sebagian menyebut 180 orang telah meninggal) dan
120.000 orang telah kehilangan tempat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar