Rabu, 17 April 2013

Pemberontak Wahabi yg Dibantu Yahudi dan Nasrani (AS dan Israel) Bunuh Syeikh Al Buthi

Al Buthi
Pelakunya adalah Pemberontak Wahabi yang memang memfitnah Syeikh Al Buthy sebagai sekutu Assad yang mereka tuding sebagai kafir. Jika mereka sudah memfitnah Al Buthy dengan lisan mereka, apa yang menghalangi mereka untuk membunuh Syeikh Al Buthy beserta 42 Muslim lainnya di Masjid di Suriah?
Dan Bom Bunuh Diri yang disebut Wahabi sebagai Bom Isytihadah tsb sudah jadi “CIri Khas” Wahabi dalam melakukan berbagai pemboman di Indonesia, di masjid2 Syi’ah, serta berbagai rumah/kantor pejabat tinggi di Suriah seperti Menhan Suriah. Pelakunya itu MUJAHAT yang masuk NERAKA. Bukan Mujahid!
Kenapa Pemberontak Wahabi yang membunuh Syeikh Al Buthy?
Karena Syeikh Al Buthy mendukung Assad sebagaimana yang dituduh pemberontak Wahabi dan menolak pemberontak.
Tidak mungkin Assad membunuh Syeikh Al Buthy yang merupakan pendukungnya. Itu akan melemahkan Assad karena pendukungnya berkurang.
Dan Wahabi setelah memfitnah Syeikh Al Buthy sebagai pendukung Assad yang mereka anggap kafir tentu akan mengkafirkan Syeikh Al Buthy dan membunuhnya.
Di Indonesia tokoh Wahabi, Yazid Jawaz juga memfitnah ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Habib Rizieq SYihab sebagai Syi’ah Rafidhoh. Padahal menurut Wahabi Syi’ah Rafidhoh itu kafir dan halal untuk dibunuh. Karena Wahabi di Indonesia masih kecil dan lemah saja mereka tidak berani membunuh Habib Rizieq. Tapi kalau mereka sudah kuat dan dipersenjatai AS dan Israel yang jadi sekutunya, bisa jadi itu akan mereka lakukan.
Said Ramadhan Al-Buthi dan Bashar Al Assad
Said Ramadhan Al-Buthi dan Bashar Al Assad
Wahabi sudah banyak membunuh ummat Islam dan ulama di Thaif, Mekkah, dan Madinah saat pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab beserta Ibnu Su’ud (Pendiri Kerajaan Arab Saudi) dibantu dana dan senjata Zionis Inggris memerangi ummat Islam di jazirah Arab. Jadi membunuh ulama/ummat Islam sudah bukan hal baru lagi bagi mereka.
Membunuh Ulama sudah biasa dilakukan Wahabi.
Yusuf Qaradawi, Ulama Mesir yang tinggal di Qatar (Ikhwanul Muslimin) berfatwa untuk membunuh semua pendukung Assad dari tentara (Asykariyyiin), Sipil (Madaniyyin), Ulama, dan orang2 awam (Jahliyyin) di TV Al Jazeera yang disaksikan 60 juta pemirsa:
Artinya jika pengikut Qaradawi taqlid dan mentaati perintahnya, mereka harus membunuh Syekh Al Buthi, Imam Masjid Aleppo, dan Imam2 masjid lainnya yang mendukung Assad.
Namun meski bukti begitu jelas, pemberontak Wahhabi menolak hal itu. Mereka meminta kita tabayyun sambil memfitnah Assad sbg pembunuhnya tanpa perlu tabayyun lagi. Menurut mereka, Al Buthi dibunuh Assad karena Al Buthi akan membelot. Padahal saat ditanya bagaimana jika target yg aka dibunuh sebenarnya akan membelot, Qaradhawi berkata, bagaimana kita tahu dia akan membelot?
Hal ini dibantah tegas oleh anak Syekh Al Buthi, Sumayya (52 tahun) yang mengatakan ayahnya tidak mungkin berubah posisi/membelot karena Bughot/Berontak itu adalah haram. Ayahnya tegas menentang Bughot/pemberontakan karena itu bertentangan dengan Syari’ah. Begitu diberitakan di Al Jazeera.

Daughter of Syria’s slain cleric speaks out

Sumayya al-Bouti says top pro-regime preacher who died in a Damascus blast supported Assad out of his conviction.
Basma Atassi Last Modified: 24 Mar 2013 15:36
Officials said the death of al-Bouti, a vocal supporter of President Bashar al-Assad, was a suicide attack [AFP]
It has become common for Syria’s opposition to blame the government of President Bashar al-Assad for explosions that hit residential areas in Damascus. The latest blast – in a mosque that killed the country’s top cleric, Sheikh Mohammad al-Bouti, his grandson, and 40 others – was no different.
Dissidents, including the head of the Syrian National Coalition, Mouaz al-Khatib, have alleged al-Bouti, a vocal supporter of Assad, was assassinated this week by regime insiders. Many believe he had been on the verge of announcing his defection.
Al-Bouti’s daughter, Sumayya, however, said that her father could not have changed his position. She said those who killed him were “unjust” and “criminal” – but refused to say who she thought might have been responsible for his death.
Thousands of people gathered in Damascus for the funeral of al-Bouti, killed in a mosque on Thursday [AFP]
“My father’s position is clear. It was based on conviction and religious texts. He believed one should not disobey [the ruler]. Disobeying may lead to strife and strife would lead to a cycle of more disorder,” she said, speaking from Saudi Arabia.
Since the early days of the uprising, which started in March 2011, al-Bouti had dismissed anti-government protesters as a bunch of mercenaries and saluted the Syrian Army in its fight against Assad’s enemies.
Sumayya said her father believed that changing reality required patience.
“He preached for patience and advocacy, rather than violence and bloodshed,” said the 52-year-old.
“In his writings, he spoke of many examples where change took place after a lot of patience, like in India.”
The cleric had influence over the affluent Sunni Muslims in Damascus and is credited for keeping them away from the violence of the protest movement.
‘Hypocrisy’
Al-Bouti was considered one of the most influential Muslim scholars in the world. He wrote more than sixty books on various Islamic issues, and was considered an important scholar of Sufism.
Following the rise of a Muslim Brotherhood insurgency in the 1970s and the brutal crackdown upon armed fighters and thousands of civilians by President Hafez al-Assad in the early 1980s, the regime encouraged a more moderate interpretation of Islam based on Sufism, which focuses on rites and rituals rather than political governance.
“He attended meetings with officials to advise them, not to be photographed with them”
- Sumayya al-Bouti
In the early 1990s, al-Bouti became a highly reputable figure among Syrians. He appeared on state television twice a week and his mosque lectures were attended by thousands.
But in 2011, many Syrians, including some of al-Bouti’s students, found Assad’s crackdown on protests too brutal to justify and accused the cleric of legitimising the regime’s military campaign against rebellious towns.
His daughter said al-Bouti was aware that some people saw his support for Assad as “hypocrisy” and “power hungry”.
“He disregarded them. He lived by the saying of Prophet Mohammad: ‘Whoever seeks Allah’s pleasure at the expense of men’s displeasure, will win Allah’s pleasure and Allah will cause men to be pleased with him.’”
“My father used to say to us: ‘If I really was after power and wealth then I would have pursued them when I was young. Not now, when I am 84.’”
Al-Bouti wanted reform. He believed it was his duty to advise both officials and the public at large.
“He attended meetings with officials to advise them, not to be photographed with them,” Sumayya said.
‘Scent of heaven’
In-depth coverage of escalating violence across Syria
When asked what he had advised Assad, she said: “He never told us. He is not the kind of person who would tell people about discussions that take place in private gatherings.”
Sumayya is al-Bouti’s only daughter. He has six sons. Several rumours have emerged on social media regarding possible defections within the al-Bouti family. Sumayya said there was no defection – “thank Allah”, she said – but there have been “discussions” within the family.
“My father used to be bothered by some of the discussions that took place. He had expected that doubt be raised by strangers but not by those close to him. He expected his children would have more knowledge than others,” she said.
What united the siblings, however, was a shared fear for the life of their father. Sumayya recalled her father saying that security guards would not make a difference, because everything happened “with Allah’s will and permission”.
“Whenever we felt scared, we felt the need to be around him and talk to him because he made us feel safe. He had so much tranquility in his heart.”
Al-Bouti told his children that what was happening in the country was a crisis that would eventually end, but he felt that the day of his death would come first.
“He told us to take care of each other,” said Sumayya. “He said that could smell the scent of heaven.”

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Apakah tudingan Wahabi selaku pembunuh Syeikh Al Buthy itu fitnah?
Kalau ingin tahu siapa ahli Fitnah, mari kita baca hadits2 Nabi di bawah. Kita akan tahu siapa ahli Fitnah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi yang lahir di Najd bersama pengikutnya.
Silahkan pelajari dan ikuti hadits Nabi:
Nabi menyebut Najd, tempat kelahiran pendiri Wahabi sebagai tempat fitnah. Ini hadits-haditsnya. Silahkan baca dengan seksama. Bebaskan diri anda dari taqlid. Gunakan akal pikiran anda untuk memahaminya. Jika pun bertanya pada ulama, jangan tanya pada kelompok anda saja. Tanya pada Jumhur Ulama agar tak tersesat:
Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)
حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]
حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)
Berbagai hadits di atas tentang Najd sesungguhnya menunjukkan Najd itu adalah Najd yang dikenal umum baik di zaman Nabi mau pun sekarang. Bukan tempat lainnya sebagaimana ditafsirkan Ibnu Taimiyyah ada di Kufah. Apalagi Najd yang dikenal di zaman Nabi di hadits tersebut disebut ada di TIMUR kota Madinah dan tempat terbitnya matahari. Tak mungkin penduduk Madinah melihat matahari terbit dari arah Kufah. Najd sekarang pun memang selain di Timur Madinah juga merupakan dataran Tinggi (762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut). Di hadits Sunan Nasa’i no 2656 Nabi menyebutkan tempat miqat bagi penduduk Iraq dan penduduk Najd. Jelas Iraq dan Najd adalah 2 tempat yang berbeda.

Wahabi yang ahli bersilat lidah berkelit: “Wahabi itu sebutan bagi pengikut Abdul Wahhab bin Rustum yang lahir di tahun 211 Hijriyah kata mereka”
Siapa itu bin Rustum? Apa itu cuma rekaan/dongeng Wahabi?
Fitnah yg berupa banyak pembunuhan2 itu menurut Nabi muncul di akhir zaman. Menjelang kiamat. Jadi tak mungkin tahun 211 H muncul, sekarang di tahun 1434 H yang makin dekat kiamat justru pengikut Rustum hilang.
Tidak ada orang yg menyebut2 menurut Syeikh bin Rustum ini..ini..ini…
Yang ada adalah orang2 yang menyebut: “Menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi ini..ini…ini…” Jadi Wahabi yang dimaksud itu adalah pengikut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini. Karena merekalah yang banyak muncul di Indonesia. Mereka sering memfitnah Muslim lain sebagai Musuh Allah, Musuh Islam, Musuh Tauhid, dsb. Tapi mereka justru merasa DIFITNAH.
Lihat bagaimana pemberontak Wahabi dibantu oleh AS, Israel, dan Eropa (Yahudi dan Nasrani). Menurut Allah, cuma orang2 munafik yang dekat dgn Yahudi dan Nasrani. Apalagi kalau membantai sesama Muslim. Berita itu begitu Mutawatir dan Sahih bahkan sebagian dari Media Wahabi sendiri yaitu Arrahmah.com:
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]
Zionis AS dan Eropa (Yahudi dan Nasrani) dukung pemberontak Suriah dgn Senjata. Tak mungkin Yahudi dan Nasrani (AS, Israel, dan Eropa) mendukung Islam sebab firman Allah di Al Qur’an cukup jelas:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]
Syeikh Al Bouthi sudah dibunuh. Siapa lagi yg akan dibunuh?
Ahlul Bughot itu tidak Islami. Sudah 70 ribu orang tewas di Suriah. Mau berapa lagi? Terhadap Fir’aun yg kekafiran dan kezalimannya tiada tanding. Fir’aun itu paling kafir dan paling zhalim, Allah tidak memerintahkan Nabi Musa beserta pengikutnya untuk bughot kepada Fir’aun. Nabi saat ditindas kaum kafir Quraisy juga tidak disuruh bughot. Tapi mereka berdua disuruh HIJRAH. Itulah cara Islam. Apa firman Allah kepada Musa?
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44]

Obama beri wewenang rahasia agar AS mendukung pemberontak Suriah
Perancis, Inggris Dukung UE Persenjatai Pemberontak Suriah
AS dukung rencana suplai senjata bagi pemberontak Suriah 
AS Dukung Upaya Perancis-Inggris Kirim Senjata ke Pemberontak Suriah
Perintah Rahasia Obama Dukung Pemberontak Suriah 
Kelompok Khawarij yg menghalalkan darah sesama Muslim ini juga punya Media di Indonesia. Lihat bagaimana mereka menyebut Syeikh Al Buthi, Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terkemuka beserta 42 Muslim yg jadi muridnya sbg pendukung Assad yang jelas2 mereka kafirkan dan mereka perangi: Para korban diyakini para pendukung Presiden Bashar al-Assad. Syaikh Muhammad Ramadhan Al-Buthi dikenala sebagai ulama Sunni sufi pro pemerintah. Sama seperti mufti besar Suriah, Syaikh Al-Buthi dalam ceramah-ceramahnya termasuk dalam khutbah Jumat selalu memuji-muji Bashar Al-Assad. Bahkan di awal-awal revolusi Suriah, jamaah yang kesal mendengar khutbah Jumatnya, mengusir dan menurunkan beliau dari mimbar masjid. 
Lihat Media Wahabi Arrahmah.com yg menghalalkan darah Syeikh Al Buthi. Kalau mereka berani memerangi Al Buthi secara lisan, saat mereka mereka memegang bom, apa yg menghalangi mereka dari membunuh Al Buthi?: Puluhan ribu muslim sunni yang dibantai oleh Bashar Asad sama sekali tak pernah dilihat oleh Syaikh al-Buthi. Loyalitas mutlak Syaikh Al-Buthi kepada rezim Nushairiyah Suriah menempatkan Syaikh al-Buthi dalam posisi musuh utama rakyat muslim Suriah. Para aktivis revolusi sampai membuat sejumlah situs dan akun bernama “Revolusi Suriah Melawan al-Buthi”.
Pemberontak Wahabi menghina Syeikh Al Buthi melalui Karikatur. Apa yang mencegah mereka untuk membunuh Al Buthi kemudian menyalahkan Assad yang didukung A Buthi?
al-buthi-tewas
Syaikh DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi Wafat
Friday, 22 March 2013 11:07 | Warta | 0 Comment | Read 15 Times
Tanbihun.com- Berita meninggalnya DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi segera menyebar seantero dunia. Seperti diberitakan beliau menjadi salah satu korban dari ledakan bom bunuh diri di Masjid Iman distrik Mezzeh Suriah. “Jumlah mereka yang tewas dalam serangan bunuh diri di Masjid Iman naik menjadi 42 tewas dengan 84 luka-luka,” sumber era muslim.
Berbeda dengan mayoritas ummat Islam yang berduka dengan wafatnya ulama, gerakan radikal di Suriah malah mengucapkan syukur atas meninggalnya Sa’id Ramadhan Al-Buthi,.
Allohumaghfirlahu, warhamhu, wa afihi, wa’fuanhu, wa akrim nuzulahu, wa wasi’ madholahu.. Aamiin Ya Robbana

Media Hizbut Tahrir syabab.com ternyata memfitnah Syeikh Al Buthi dengan keji dan mengkambing-hitamkan Assad yang sebetulnya sahabat Syeikh Al Buthi:
Syabab.Com - Ulama besar yang selama dua tahun masa revolusi gigih membela rezim keji Nushairiyah Bashar Al-Assad, Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan tragis. Media-media rezim membuat berita kebohongan untuk meraih simpati dengan menyebut Al-Buthi tewas dalam serangan bom diri, Kamis, 21/03/2013.

Dari situ kita tahu HT yang Wahabi tetap sepaham dengan aliran Wahabi lainnya.
Ketahuan deh siapa yang membunuh Al Buthi.
Sebelum Al Buthi meninggal mereka hina.
Sesudah Al Buthi meninggal pun mereka tertawa kegirangan dan menghina Syekh Al Buthi.
Khawarij Wahabi lah pembunuhnya.
1 berita fitnah dari MEDIA WAHABI…:
Ulama sufi yang bermadzhab asy’ari ini –yang telah mencapai usia sangat tua lebih dari 80 tahun- memang sangat terkenal membenci kaum Ahlus Sunnah yang disebut sebagai wahabiyah.

2 komentar: